Medali Emas Bulu Tangkis Olimpiade Rio De Janairo 71 Tahun HUT RI

Merdeka – Merdeka – Merdeka, Perjuangan yang membuahkan hasil Medali Emas Pertama Olimpiade Rio De Janairo, dari Lyliana Nasir dan Tantowi, pebulu tangkis tangguh Indonesia. Tepat tanggal 17 agustus 2016, jam 23:58 WIB, berupa anugerah dari Tuhan Yang Maha Pemberi Rahmat.

Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945

Jayalah Negeriku Indonesia

Cinta negeri itu wajib ain.

Cinta negeri itu wajib ain.

Merdeka – Merdeka – Merdeka

Ke 71 Tahun Kemerdekaan NKRI

Ke 71 Tahun Kemerdekaan NKRI

Bersatulah anak-anak negeri dengan bergerak positif membangun NKRI – Harga Mati, sebagai tanah tumpah darah. Setiap hirupan napas ada syukur  sebagai wujud syukur pada Illahi Robbi, atas segala karunia-Nya.

Hormat Bendera Sang Merah Putih

Hormat Bendera Sang Merah Putih

Ternyata, Aturan Pengeras Suara Masjid Sudah Ada Sejak 1978

Pengeras suara di masjid, musala, dan langgar sudah ada aturannya sejak 1978 (Foto: Madiun Pos)

KOTA MADIUN – Tak banyak yang tahu bahwa pengeras suara yang ada di masjid, musala, atau langgar ternyata sudah ada aturannya. Bahkan, jauh hari sebelum Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla menyampaikan perlunya aturan tentang pengeras suara di rumah ibadah, Departemen Agama (sekarang Kementerian Agama) sudah mengaturnya secara rinci sejak 1978 silam.

Data yang dihimpun Madiun Pos, aturan tentang penggunaan pengeras suara di masjid, musala atau langgar, tertuang dalam Instruksi Dirjen Bimas 101/1978 tentang Tuntunan Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Musala. Dalam aturan itu, secara rinci disebutkan bahwa penggunaan pengeras suara ke luar masjid pada intinya untuk penanda waktu salat.

Adapun untuk salat, zikir, doa, atau pengajian, memakai pengeras suara ke dalam masjid. Hanya untuk hal-hal tertentu, diperkenankan memakai pengeras suara ke luar. Dan itu juga tertuang dalam aturan di Kementerian Agama Era Soeharto itu.

Berikut salinan aturan pengeras suara di masjid, musala, dan langgar yang tertuang dalam Instruksi Dirjen Bimas 101/1978:

Subuh:

Paling awal 15 menit sebelum waktunya adzan, boleh menggunakan pengeras suara ke luar untuk bacaan Alquran. Adapun untuk Salat Subuh, kuliah Subuh, dan setelah hanya memakai pengeras ke dalam masjid.

Dzuhur dan Jumat:

Paling awal 5 menit menjelang Dzuhur dan 15 menit menjelang waktu adzan Salat Jumat boleh diisi dengan bacaan Alquran memakai pengeras suara ke luar. Demikian juga suara adzan. Adapun salat, doa, pengumuman khutbah, memakai pengeras ke dalam.

Ashar, Maghrib, Isyak:

Paling awal 5 menit sebelum adzan dianjurkan ada bacaan Alquran memakai pengeras ke luar. Namun, setelah adzan hanya menggunakan pengeras suara ke dalam.

Takbir dan Ramadan:

Takbir Idul Fitri dan Idul Adha menggunakan pengeras suara ke luar. Namun, saat Ramadan, siang dan malam hari, bacaan Alquran menggunakan pengeras suara dalam.
 

Upacara Besar Islam dan Pengajian:

Pengajian dan tabligh hanya menggunakan pengeras suara ke dalam, kecuali pengunjungnya meluber ke luar.

Seperti diketahui, sebagian publik sempat mengecam pernyataan Wapres JK beberapa waktu lalu terkait pengaturan speaker masjid. Menurut JK, saat ini banyak masjid yang bebas aturan dalam memakai pengeras suara hingga menimbulkan polusi suara. Dia pun menyarankan agar perlunya pengaturan tentang pengeras suara di masjid dan musala.

Sumber : OKEZONE News (Rabu, 24 Juni 2015 – 16:09 wib)

(mbs)

Komandan Banser Jateng Menjadi Komisioner KPU Pusat pengganti HKM

 

Komandan Banser Jateng Menjadi Komisioner KPU Pusat Posisi Almarhum Husni Kamil Malik di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat kini sudah akan diisi oleh komisioner baru.

Berdasarkan peringkat hasil seleksi komisioner KPU Pusat oleh DPR-RI pada tahun 2012, maka nama yang muncul adalah Hasyim Asyari.

Komisioner KPU Hadar Nafis Gumay mengatakan, Hasyim Asyari dipilih karena berada pada nomor urut delapan dalam fit and proper test calon pimpinan KPU tahun 2012 di Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat.

“Kan dari 2012 ada rankingnya semua dan itu sudah disampaikan presiden kepada DPR. Yang tujuh waktu dilantik itu kan Pak Husni dan kami. Nah sekarang yang berhak ya nomor delapan,” kata Hadar usai menggelar rapat pleno di Kantor KPU, Jakarta, Senin (11/7) sebagaimana yang dikutip CNN Indonesia.

Dalam kesehariannya, Hasyim Asyari adalah dosen di fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. selain itu, suami Siti Mutmainah, S.E., Akt., M.Si ini juga merupakan Komandan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kab. Jawa Tengah.

Sumber: beritakurasi

Moslem For All

KH. Maimun Ungkap Bukti Kalau Bangsa Indonesia adalah Bangsa Terpilih

Serambimata.com – KH. Maimun Zubair menyatakan, bangsa Indonesia adalah benar-benar bangsa yang terpilih. Menurut Mustasyar PBNU  itu,  tidak ada di permukaan bumi orang Islam terbanyak seperti Indonesia. Sampai Allah memperingatkan kemerdekaan Indonesia dengan angka 17, 8, dan 45. Pernyataan itu disampaikan Mbah Maimun dalam sebuah acara pengajian, Kamis (14/4) malam di Desa Gandrirojo, Kecamatan Sedan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Dalam kesempatan tersebut Mbah Moen sapaan akrabnya menjelaskan terkait rangkaian angka 17, 8, dan 45. “Ini angka sembahyang, sembahyang angka yang harus diketahui yaitu tujuh belas, delapan, dan empat lima. Kalau tidak tahu ini tidak sah shalatnya,” terangnya.

Ia juga mengatakan, bahwa dalam lambang garuda pancasila terdapat dua sayap dengan jumlah bulu 17 di kanan, dan 17 disebelah kiri. Ia menjelaskan lambang angka 17 ini merupakan jumlah rukunnya shalat. Yakni, niat, takbiratul ihram, berdiri, membaca al-fatihah, rukuk, thumakninah dalam rukuk, iktidal (berdiri bangun dari rukuk), thumakninah dalam iktidal, sujud dua kali, thumakninah dalam sujud, duduk diantara dua sujud, thunakninah dalam duduk diantara dua sujud, membaca tasyahud akhir.

“Kemudian duduk (ketika membaca) tasyahud akhir, membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW dalam duduk tasyahud akhir, (membaca) salam, tertib (mengerjakan secara berurutan),” tambah Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Kabupaten Rembang tersebut.

Tujuh belas yang kedua, lanjut Mbah Moen, merupakan jumlah rakaat shalat sehari-semalam. Yakni Mahgrib tiga rakaat, Isya empat rakaat, Subuh dua rakaat, Dzuhur empat rakaat, dan Ashar empat rakaat.

Sedangkan angka delapan menjelaskan sebagai tolaknya neraka dan sebabnya masuk surga. Lebih lanjut ia mengatakan tentang tujuh anggota sujud, meliputi, jidat, kedua tangan, kedua lutut, dan kedua kaki. “Tujuh ini sebagai penolak neraka, karena pintu neraka ada tujuh,” ujarnya.

“Ditambah satu lagi, jika kita ingin masuk surga harus ingat sama Allah. Jadi jumlahnya genap delapan, karena delapan ini merupakan jumlah pintu surga,” terang kiai yang kini berusia 91 tahun tersebut.

Terakhir ia menjelaskan tentang angka empat lima, bahwa setiap orang Islam harus membaca syahadat empat kali, dan lima kali. Malam empat kali, Maghrib dan Isya. Sedangkan siang hari lima kali, Subuh, Dzuhur, dan Ashar. “Jadi ini menunjukkan bahwa negara Islam itu tidak ada, yang ada adalah negara mayoritas Islam, yakni Indonesia,” tutupnya.

Sumber NU Online

Sudah selayaknya generasi NKRI itu menjga keutuhan Negara, dengan mengisi dengan kegiatan yang membangun Nusantara.

HDS, Al Harokah Barokah

Cinta pun ada di Papua

Foto Abdu L Wahab.

Abdu L Wahab

Ada Cinta Di Papua

Inilah salah satu akhlak yang di ajarkan oleh agama manapun. Karna yang kutahu semua Agama mengajarkan cinta kasih sesama manusia, kelembutan, kesabaran.

Sperti dalam foto ini. Terlihat sebuah keharmonisan antara orang tua dan anak meski beda Agama.

Rudi kecil memilih memeluk agama Islam, sedang sang ayah beragama Keristen.

Meski beda agama keharmonisan Anak dan orangtua di Papua ini tidak sedikitpun menimbulkan sebuah masalah dalam kehidupan sehari”.

Bahkan Rudi juga di izinkan oleh sang ayah untuk menimba ilmu di Pon Pes Al Payage.

Lihatlah betapa perbedaan suatu agama tidak menjadi sebuah sekat dalam keluarga. Rudi yang stiap hari mengaji, mendengar petuah” Kh Saiful Islam Al Payage di Pondok, mengerti betul pentingnya Akhlak terhadap orang tua meski berbeda Agama.

Saya jadi teringat sebuah kisah. Dimana dahulu ketika Kanjeng Rasulullah SAW mengakhiri salat subuh berjamaah dengan salam, lalu melakukan zikir bersama-sama dan selesai berdoa, Sahabat Umar bin Khaththab memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, mengapa hari ini salat Subuhmu tidak seperti biasanya?”

“Kenapa? Apa yang berbeda?” Tanya Nabi.

“Sangat lain, ya Rasulullah.
Biasanya engkau ruku dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi engkau ruku lama sekali. Mengapa?”

“Aku juga tidak tahu. Cuma tadi, pada saat aku sedang ruku dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun I’tidal.”

Umar semakin heran.

“Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasul?”

Nabi menggeleng ramah seraya berkata, “Aku juga belum tahu, karena Malaikat JIbril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenan Allah SWT, beberapa waktu kemudian, Malaikat Jibril, berkata kepada Nabi SAW:

“Muhammad. Aku tadi diperintahkan Allah SWT untuk menekan punggungmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapat kesempatan salat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agama-Nya secara bertanggung jawab, yaitu dengan menghormati seorang kakek tua beragama Yahudi. Dari penghormatannya itu sampai terpaksa dia berjalan pelan sekali. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak memperoleh peluang untuk menunaikan salat Subuh berjamaah bersama denganmu.”

Kenapa dengan Sahabat Ali?

Inilah kisahnya:

Pada hari itu Sahabat Ali bin Abi Thalib bergegas bangun untuk dapat mengerjakan salat Subuh berjamaah seperti biasanya di masjid bersama Rasulullah SAW.

Langit masih amat gelap ketika Sahabat Ali keluar dari rumahnya dan berjalan tergesa-gesa menuju ke masjid.

Sahabat Bilal sudah memanggil-manggil dengan suara azannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru dan sudut-sudut kota Madinah.

Namun ketika Sahabat Ali bin Abi Thalib berada di jalan menuju tempat jamaah yang jaraknya masih cukup jauh, ternyata di depannya ada seorang kakek tua beragama Yahudi yang melangkah pelan sekali karena usianya yang telah lanjut (uzur).

Kakek itu berjalan tertatih-tatih.
Sahabar Ali sebenarnya sudah berusaha agar tidak ketinggalan mengerjakan salat tahiyatul masjid dan qab liyah Subuh sebelum bersama Rasulullah SAW dan para sahabat lainnya melaksanakan jamaah.

Tapi, lantaran Nabi mengajarkan supaya setiap umat Islam menghormati orang tua, siapa pun orang tua itu dan apa pun agamanya, maka Sahabat Ali terpaksa berjalan di belakang kakek itu.
Karena si kakek berjaan amat lambat, Sahabat Ali pun melangkah sangat pelan. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya, takut kalau-kalau kakek Yahudi tersebut kena celaka atau terjatuh.

Akibatnya, ketika mendekati masjid langit sudah hampir kuning.
Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid dan tidak masuk ke dalamnya, sebab tempat ibadah agama Yahudi bukan di masjid. Sahabat Ali menyangka salat Subuh pasti sudah usai. Namun ia tetap cepat-cepat masuk ke dalam masjid.
Alangkah herannya Sahanat Ali. Tahu-tahu Nabi dan para sahabat masih ruku pada rakaat yang kedua, berarti Sahabat Ali punya kesempatan untuk menunaikan salat berjamaah.

Sebab, jika masih bisa menjalankan ruku bersama, berarti masih kebagian satu rakaat. (Kitab Mawa’idhul Ushfuriyyah, Hadist Ketiga)

Itulah sejatinya ajaran sebuah agama. Menghormati sesama meski berbeda Agama.

Saya jadi teringat nasehat Gus Mus dalam acara Mata Najwa

“Tetaplah jadi manusia, mengertilah manusia, dan manusiakanlah manusia” KH.Mustofa Bisri .

Dari sini kita belajar bahwa sudah sepatutnya seseorang menggapai ukhuwah yang lebih tinggi ,lebih mendalam dan lebih mendasar dari ukhwah Islamiah, ukhwah wathoniah . Karna ukhuwah basyariyah tidak dibatasi oleh baju luar dan sekat-sekat primordial seperti agama, suku, ras, bahasa, jenis kelamin, dan sebagainya.

“Mari bersama Kibarkan panji cinta sejati dan persaudaraan abadi.”

‪#‎Nayak‬